Pinjol Merajalela, Rentenir Berkeliaran: Potret Kemiskinan yang Tak Kunjung Usai
Oleh: Redaksi Indoupdateterkini
Di tengah berbagai pidato mengenai pertumbuhan ekonomi, hilirisasi, investasi, dan pembangunan nasional, masih banyak rakyat kecil yang justru hidup dalam himpitan ekonomi. Pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat sederhana saja: jika ekonomi benar-benar tumbuh, mengapa begitu banyak warga yang harus berutang hanya untuk bertahan hidup?
Fenomena maraknya pinjaman online dan praktik rentenir yang semakin menjamur sesungguhnya bukan sekadar persoalan utang-piutang. Ini merupakan cermin dari adanya persoalan sosial dan ekonomi yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Hari ini, tidak sedikit masyarakat yang terpaksa meminjam uang untuk membeli kebutuhan pokok, membayar biaya sekolah anak, biaya berobat, hingga membayar cicilan yang lain. Utang bukan lagi digunakan untuk mengembangkan usaha, melainkan menjadi alat untuk bertahan hidup.
Kondisi tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama. Sebab, ketika rakyat semakin bergantung pada pinjaman berbunga tinggi, maka muncul pertanyaan apakah kesejahteraan benar-benar telah dirasakan secara merata.
Pinjaman online hadir dengan kemudahan teknologi, sementara rentenir hadir dengan uang tunai yang cepat. Keduanya berkembang subur karena ada kebutuhan masyarakat yang belum sepenuhnya terjawab oleh sistem ekonomi formal. Ketika akses pekerjaan terbatas, modal usaha sulit diperoleh, dan biaya hidup terus meningkat, maka masyarakat yang berada dalam kondisi terdesak sering kali memilih jalan yang dianggap paling cepat.
Ironisnya, di saat sebagian masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, publik juga kerap disuguhkan berbagai pemberitaan mengenai gaya hidup mewah pejabat, penyalahgunaan jabatan, hingga kasus-kasus korupsi yang nilainya mencapai miliaran bahkan triliunan rupiah.
Kesenjangan inilah yang kemudian menimbulkan rasa ketidakadilan di tengah masyarakat. Rakyat diminta bersabar dan bekerja keras, namun pada saat yang sama masih muncul berbagai persoalan tata kelola dan penggunaan anggaran yang menjadi sorotan publik.
Sudah seharusnya para pemangku kebijakan menjadikan kondisi ini sebagai peringatan serius. Kemakmuran suatu negara tidak dapat diukur hanya dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi atau banyaknya proyek pembangunan, tetapi juga dari kemampuan negara memastikan bahwa masyarakat kecil dapat hidup layak tanpa harus terjerat utang.
Apabila pinjaman online dan rentenir terus menjadi "penyelamat" ekonomi rakyat kecil, maka hal itu menunjukkan bahwa masih ada persoalan yang perlu mendapat perhatian lebih dalam upaya pemerataan kesejahteraan.
Rakyat tidak membutuhkan janji yang indah di atas kertas. Rakyat membutuhkan pekerjaan, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, pendidikan yang mudah diakses, pelayanan kesehatan yang memadai, dan kesempatan ekonomi yang adil.
Sebab, ketika rakyat kecil harus meminjam uang untuk makan, sementara berbagai kasus penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi masih terus menjadi perhatian publik, maka pertanyaan mengenai keadilan sosial akan terus muncul.
Kesejahteraan yang sesungguhnya bukanlah ketika pusat-pusat kekuasaan terlihat makmur, melainkan ketika masyarakat di desa, di pasar, di pelosok, hingga di perkotaan dapat hidup dengan tenang tanpa dihantui utang, kemiskinan, dan ketidakpastian ekonomi.
Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini yang bertujuan mendorong diskusi publik mengenai persoalan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesejahteraan masyarakat berdasarkan fenomena yang berkembang di tengah masyarakat.
0 Komentar
Indo Update Terkini menghargai partisipasi pembaca.
Redaksi berhak menyunting atau menghapus komentar yang melanggar hukum, etika jurnalistik, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.