SURAT CINTA KE-3 UNTUK PEMIMPIN NEGERI

SURAT CINTA KE-3 UNTUK PEMIMPIN NEGERI
"Warisan Terindah Seorang Pemimpin Adalah Keadilan"

Karya: Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari, S.H., M.H., C.Med., C.LO., C.PIM.

Yang Terhormat, Segenap Pemimpin Negeri Republik Indonesia,

Shallom, Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera bagi kita semua.

Izinkan saya kembali menulis surat ini dengan penuh rasa hormat. Bukan untuk menghakimi, bukan pula untuk menggurui. Surat ini lahir dari kegelisahan seorang warga negara yang masih percaya bahwa Indonesia adalah negara hukum, dan bahwa setiap pemimpin diberi amanah untuk menjaga harkat, martabat, serta hak seluruh rakyat Indonesia.

Menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, kita kembali mengumandangkan tema besar "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur." Tema tersebut bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ia adalah janji kebangsaan yang harus diwujudkan melalui kebijakan, keberanian, dan tindakan nyata.

Pemimpin yang kami hormati,

Tidak ada rakyat yang berharap diperlakukan secara istimewa. Yang mereka dambakan hanyalah perlakuan yang adil. Mereka tidak meminta hukum berpihak kepada mereka. Mereka hanya berharap hukum berdiri tegak di tengah, tanpa dipengaruhi kekuasaan, jabatan, pangkat, maupun kepentingan apa pun.

Hari ini, masih ada keluarga yang menunggu negara hadir. Masih ada seorang ayah yang merindukan keadilan atas putranya yang telah tiada. Masih ada keluarga yang menanti kepastian hukum agar dapat menutup luka dengan kebenaran. Masih ada rakyat kecil yang berjuang mencari ruang untuk didengar di tengah rumitnya proses hukum. Semua itu adalah wajah Indonesia yang juga perlu Bapak dan Ibu lihat.

Konstitusi telah mengamanatkan bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum. Amanat tersebut hanya akan bermakna apabila diterapkan secara konsisten dalam setiap proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan, hingga persidangan.

Kepercayaan rakyat terhadap negara tidak dibangun melalui pidato yang indah, melainkan melalui keberanian menghadirkan keadilan ketika rakyat paling membutuhkannya.

Bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani mendengar, berani mengevaluasi, berani memperbaiki, dan berani memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang kehilangan harapan hanya karena tidak memiliki kekuasaan.

Percayalah, ketika hukum ditegakkan dengan jujur, rakyat akan berdiri di belakang negara. Ketika keadilan benar-benar hadir, kepercayaan publik akan tumbuh. Ketika negara melindungi yang lemah, Indonesia akan menjadi bangsa yang semakin kuat, bermartabat, dan dihormati.

Pemimpin Negeri yang kami hormati,

Suatu hari nanti, jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berganti. Nama-nama pemimpin akan menjadi bagian dari sejarah.

Namun, ada satu hal yang akan tetap dikenang sepanjang masa.

Bukan seberapa lama seseorang memimpin.

Bukan seberapa besar kekuasaan yang pernah dimiliki.

Melainkan seberapa besar keberaniannya menghadirkan keadilan bagi rakyatnya.

Itulah warisan yang tidak akan pernah lekang oleh waktu. Warisan yang hidup dalam doa masyarakat, tertulis dalam sejarah bangsa, dan dikenang oleh generasi penerus Indonesia.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menganugerahkan kebijaksanaan, keberanian, kesehatan, dan hati nurani kepada seluruh penyelenggara negara, agar setiap kebijakan yang diambil selalu berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.

Selamat memperingati Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Mari kita jadikan tema "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur" sebagai komitmen bersama untuk menghadirkan negara yang benar-benar melindungi seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan latar belakang, kedudukan, maupun status sosial.

Sebab sebesar apa pun sebuah bangsa, kemuliaannya akan selalu diukur dari cara negara memperlakukan rakyatnya yang paling lemah.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Hormat saya,

Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari, S.H., M.H., C.Med., C.LO., C.PIM.

Posting Komentar

0 Komentar