DUGAAN KORUPSI HONORARIUM SMA NEGERI 2 MUARA ENIM– AKTIVIS GEMPITA BERIKAN SINYAL AKSI MASSA


DUGAAN KORUPSI HONORARIUM SMA NEGERI 2 MUARA ENIM– AKTIVIS GEMPITA BERIKAN SINYAL AKSI MASSA


Atas temuan dugaan penyimpangan dana honorarium persentase pada SMA Negeri 2 muara Enim, Aktivis Gempita, Budi Riskiyanto, secara terbuka menyatakan bahwa pihaknya tidak akan berhenti hanya pada kritik dan dokumentasi temuan.


Menurutnya, jika dalam waktu dekat tidak ada tindakan nyata dari aparat penegak hukum, GEMPITA bersama elemen masyarakat lain akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran sebagai bentuk protes publik.


Dalam keterangan yang disampaikan, Budi Riskiyanto menegaskan:


> “Kami tidak datang membawa proposal, kami datang membawa tuntutan. Jika persoalan ini dipetieskan, maka GEMPITA akan turun dengan kekuatan massa. Kami tidak sedang meminta, kami MENUNTUT negara hadir dalam penegakan hukum tanpa pandang jabatan dan kedekatan.”


Rencana aksi ini tidak dimaksudkan sebagai kegaduhan politik, melainkan:


Tekanan moral kepada penegak hukum


Kepedulian terhadap kebocoran anggaran pendidikan


Tuntutan akuntabilitas pengelolaan dana publik


Seruan agar korupsi honorarium tidak dianggap kejahatan kecil


Budi Riskiyanto menambahkan:


> “Jika dana pendidikan saja berani dimainkan, apa yang tidak berani? Ini bukan angka, ini amanah. Jangan menantang kesabaran publik.”



GEMPITA Mencatat Batas Waktu Sikap Resmi dari Penegak Hukum


GMPITA menyatakan bahwa diamnya institusi hukum atas temuan BPK adalah bentuk pembiaran, dan pembiaran terhadap dugaan korupsi adalah bagian dari masalah itu sendiri.


Oleh karena itu:


Surat resmi akan dikirim


Dokumen pendukung akan diserahkan


Dan aksi massa akan digelar apabila diabaikan

Disebutkan bahwa aksi yang akan dilakukan bukan simbolik, bukan seremonial, melainkan aksi besar dengan partisipasi publik dan media.


Penutup Tegas

> “Kami tidak sedang berperang melawan individu, tetapi melawan kebiasaan. Jika korupsi di sekolah dibiarkan, maka bangsa ini sedang dilatih untuk menerima kebusukan sebagai kelaziman.”

Aktivis GEMPITA, Budi Riskiyanto

Posting Komentar

0 Komentar