Penggiat Kontrol Sosial Tokoh Pemuda Ogan Ilir, Budi Gempita, “Tampar” Pejabat Indonesia

"Kalau Tak Mau Dikritik, Jangan Jadi Pejabat! Mental Rapuh Tak Layak Duduk di Jabatan Publik!”

Ogan Ilir, Indoupdate – Suara keras kembali menggema dari kalangan muda Ogan Ilir. Budi Gempita, tokoh pemuda yang dikenal vokal terhadap isu pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan, mengeluarkan pernyataan tajam yang ditujukan kepada seluruh pejabat pemerintah di Indonesia—terutama pejabat di Kabupaten Ogan Ilir.

Dalam pernyataannya, Budi menekankan bahwa pejabat publik harus siap menerima kritik sebagai bagian dari tanggung jawab dan pengawasan demokratis.

“Kalau tidak mau dikritik, jangan jadi pejabat lah! Pejabat itu digaji rakyat, diberi fasilitas dari uang rakyat, dan diberi kepercayaan rakyat. Kalau tidak siap menerima kritik, ya jangan minta jabatan. Jangan duduk di kursi pemerintahan kalau mentalnya rapuh!” tegasnya.


“Jabatan Publik Bukan Tempat untuk Mencari Penghormatan, Tapi Tempat untuk Diawasi”


Budi menyindir keras sikap sebagian pejabat yang alergi dikoreksi. Menurutnya, banyak pejabat yang justru lebih fokus pada pencitraan daripada menyelesaikan persoalan nyata di lapangan. Bahkan, ada yang mencoba membungkam kritik atau mencari siapa yang mengkritik daripada memperbaiki kinerjanya.


“Masalahnya hari ini, ada pejabat yang kalau dikritik langsung tersinggung, langsung cari siapa yang ngomong. Bukan cari apa yang salah. Ini cara berpikir yang keliru dan berbahaya untuk pemerintahan,” ujarnya.


Budi menegaskan, pejabat bukanlah raja. Pejabat adalah pelayan. Dan pelayan wajib mendengar suara orang yang dilayaninya — rakyat.


Sorotan Keras untuk Pejabat di Ogan Ilir

Meski pesannya ditujukan secara nasional, Budi menegaskan bahwa ia paling menyoroti pejabat di Kabupaten Ogan Ilir, yang menurutnya masih ada yang menunjukkan sikap anti-kritik dan defensif ketika masyarakat memberi masukan.

“Pejabat di Ogan Ilir harus paham, sekarang masyarakat makin pintar, makin melek informasi, makin berani bicara. Kalau pejabatnya masih alergi kritik, itu tanda mundur. Ogan Ilir butuh pejabat yang dewasa, bukan pejabat yang sibuk baper,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa Ogan Ilir memiliki banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan pemimpin terbuka: mulai dari disiplin birokrasi, pelayanan publik, hingga transparansi penggunaan anggaran.

“Daerah ini butuh pejabat yang bisa mendengar, bukan pejabat yang sibuk merasa paling benar,” tambahnya.


Kritik Adalah Bagian Penting Demokrasi

Menurut Budi, kritik bukan serangan. Kritik adalah bagian dari mekanisme pengawasan masyarakat untuk memastikan pemerintah tetap berada pada jalur yang benar.

“Rakyat mengkritik karena peduli. Kalau rakyat diam, itu artinya mereka sudah putus asa. Pemerintah harus bersyukur masih ada generasi muda yang mau bersuara dan mengingatkan,” ungkapnya.

Ia menilai bahwa pejabat yang tidak tahan kritik sesungguhnya adalah pejabat yang tidak siap bekerja di bawah sistem demokrasi.


Harapan dan Desakan untuk Pemerintah

Di akhir pernyataannya, Budi Gempita menegaskan bahwa pejabat publik harus membuka ruang bagi kritik, transparansi, dan dialog. Keengganan menerima kritik hanya akan melahirkan pemerintahan yang tertutup, tidak akuntabel, dan rawan penyimpangan.

“Pejabat yang hebat bukan yang tidak pernah dikritik, tapi yang mau memperbaiki diri setelah dikritik. Itu baru pemimpin sejati.”***


Posting Komentar

0 Komentar