Kuasai Proyek Miliaran, Keluarga Bupati Ogan Ilir Disorot Mahasiswa di Depan KPK : KKN dan Jabatan Bukan untuk keluarga Bupati dan Kolega Pejabat

 Mahasiswa Ogan Ilir Geruduk KPK: Jabatan untuk Rakyat, Bukan untuk Keluarga Bupati


Laporan : Indotim

Editor    : Aldi wijaya

Jakarta, Indoupdateterkini— Puluhan mahasiswa asal Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, yang kini berkuliah di Jakarta, menggelar aksi tegas di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Kamis (16/10/2025).

Aksi ini dipimpin oleh M. Taqwa, Aktivis Penggiat Anti Korupsi, yang menyoroti dugaan penguasaan proyek-proyek daerah oleh keluarga dan kerabat Bupati Ogan Ilir.

Dalam orasinya, M. Taqwa menyebut bahwa roda pemerintahan Ogan Ilir kini lebih menyerupai lingkar kekuasaan keluarga, bukan pemerintahan yang dijalankan untuk rakyat.

> “Dengan memegang kendali di berbagai posisi strategis, mereka bebas mengatur arah proyek dan pembagian anggaran. Akibatnya, proyek rakyat berubah menjadi bancakan kekuasaan,” ujar M. Taqwa lantang di depan Gedung KPK RI.

Simbol Ogan Ilir yang ‘Gelap’


Massa aksi mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol bahwa Kabupaten Ogan Ilir kini berada dalam kegelapan kekuasaan — gelap oleh nepotisme, gelap oleh korupsi, dan gelap oleh pengkhianatan terhadap amanah rakyat.

Mahasiswa menilai Bupati Ogan Ilir gagal menjaga integritas jabatannya karena membiarkan keluarganya menguasai berbagai proyek strategis daerah.

> “Jangan jadikan jabatan sebagai ajang korban bagi masyarakat banyak. Anda terpilih sebagai Bupati karena rakyat, bukan karena keluarga. Amanah rakyat bukan warisan keluarga,” tegas M. Taqwa.

> “Jabatan untuk rakyat yang berintegritas, bukan untuk keluarga dan kolega pejabat. Pejabat dan penguasa harus sadar bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan warisan,” tambahnya lantang disambut tepuk tangan massa.


Proyek-Proyek yang Dipersoalkan

Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga membawa dan menyerahkan laporan resmi ke bagian pengaduan KPK RI, berisi data proyek-proyek daerah bernilai miliaran rupiah yang mereka sebut sarat kepentingan keluarga dan kolega pejabat.

Berikut data proyek yang dipersoalkan berdasarkan laporan lapangan dan hasil pemeriksaan mahasiswa:

Dinas PUPR

1. Peningkatan Jalan Ruas Segayam – Lebak Gedong (TA 2023)

Nilai kontrak Rp 23,2 miliar, masa pakai 1,8 tahun – tidak sesuai spesifikasi teknis, kondisi rusak.

Pemenang lelang: PT Bandar Selaya Mandiri

2. Peningkatan Jalan Poros Lebak Gedong – Segayam (TA 2024)

Nilai kontrak Rp 4,9 miliar, masa pakai 9 bulan – rusak.

Pemenang lelang: CV Cipta Karya Ogan

3. Peningkatan Jalan Poros Lebak Gedong – Segayam (TA 2024)

Nilai kontrak Rp 20,7 miliar, masa pakai 9 bulan – rusak.

Pemenang lelang: PT Wira Jaya Indotama Karya

4. Peningkatan Jalan Poros Mayapati – Ulak Aur Standing Tahap 1 (TA 2024)

Nilai kontrak Rp 5,8 miliar, masa pakai 9 bulan – rusak.

Pemenang lelang: CV Cipta Karya Ogan

5. Peningkatan Jalan Poros Mayapati – Ulak Aur Standing (TA 2024)

Nilai kontrak Rp 5,1 miliar, masa pakai 9 bulan – rusak.

Pemenang lelang: CV Maiza Gandes Iswara

6. Peningkatan Jalan Poros Palem Raya – Tanjung Seteko (TA 2024)

Nilai kontrak Rp 10,4 miliar, masa pakai 9 bulan – rusak.

Pemenang lelang: CV Cipta Karya Ogan

7. Pembangunan Jembatan Tanjung Baru – Tanjung Pering (TA 2024)

Nilai kontrak Rp 14,8 miliar – lokasi pembangunan belum dibebaskan, namun proyek sudah dibangun.

Pemenang lelang: CV Trida Sarana

8. Pembangunan Jalan Poros Kawasan Kantor Vertikal (TA 2024)

Nilai kontrak Rp 14,7 miliar – lokasi jalan belum dibebaskan.

Pemenang lelang: CV Trida Sarana

9. Penataan Masjid An-Nur KPT Tanjung Senai (TA 2024)

Nilai kontrak Rp 1,4 miliar, plafon runtuh meski proyek baru selesai 2 bulan.

Pemenang lelang: CV Putra Jelawe

Dinas Perpustakaan

1. Pembangunan Gedung Kantor Perpustakaan (TA 2024)

Nilai kontrak Rp 9,9 miliar, kondisi timbunan tidak dipadatkan dan bangunan sudah retak.

Pemenang lelang: CV Tiga Juanda Bersaudara

Total nilai proyek tahun anggaran 2023–2025 mencapai sekitar Rp 101 miliar. Mahasiswa menilai banyak proyek tersebut tidak sesuai spesifikasi teknis dan berpotensi merugikan keuangan negara. Mereka juga menduga proses lelang proyek dikondisikan melalui Dinas ULP agar dimenangkan oleh pihak-pihak yang dekat dengan Bupati, Sekda, dan Kepala Dinas terkait.

Ancaman Gejolak Rakyat

M. Taqwa memperingatkan bahwa jika praktik nepotisme dan ketimpangan pembangunan terus berlanjut tanpa tindakan hukum, gejolak masyarakat tidak bisa dihindari.

> “Kalau pembangunan hanya berpihak pada keluarga dan kroni, jangan salahkan rakyat bila suatu saat mereka menuntut pisah dari Ogan Ilir dan bergabung dengan Kabupaten Muara Enim. Rakyat sudah lelah menjadi korban ketidakadilan,” ujarnya tegas.

Penutup Aksi

Aksi mahasiswa berlangsung damai di bawah pengawalan aparat kepolisian. Sebelum membubarkan diri, massa menyampaikan pesan moral yang menggema di halaman KPK:

> “Kami berpakaian hitam karena nurani kami berduka. Selama kekuasaan masih dijalankan seperti urusan rumah tangga, Ogan Ilir akan tetap gelap,” tutup M. Taqwa tegas."***

Posting Komentar

0 Komentar