𝕃𝕒𝕡𝕠𝕣𝕒𝕟 : 𝔹𝕦𝕕𝕚 ℝ𝕚𝕤𝕜𝕚𝕪𝕒𝕟𝕥𝕠
𝔼𝕕𝕚𝕥𝕠𝕣 : 𝕋𝕚𝕞
Sumatera Selatan, 21 November 2025 — Polemik terkait syarat bantuan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) kembali memicu kemarahan publik. Di media sosial, ribuan komentar bernada kecewa menyebut proses bantuan “semakin sulit dan tidak berpihak pada rakyat kecil”.
Di tengah gelombang keresahan itu, kritik paling keras datang dari Ketua AIPI Sumatera Selatan, Dr.(c) Ade Indra Chaniago, M.Si, yang secara terbuka melontarkan kecaman tajam terhadap Baznas daerah maupun provinsi.
Dalam pernyataannya Jumat (21/11/2025), Ade tidak menahan amarahnya.
> “Ini kezaliman yang dibungkus aturan. Syarat-syarat itu tidak masuk akal, tidak manusiawi, dan tidak bermoral! Kalau pengurus Baznas tidak paham arti amanah, bubarkan saja semuanya. Cukup rakyat dihina!”
Ade menilai praktik birokrasi Baznas justru menyulitkan rakyat miskin yang datang mencari bantuan. Ia menegaskan bahwa dana zakat adalah hak umat, bukan fasilitas yang boleh diperlakukan sebagai instrumen kekuasaan.
> “Rakyat miskin datang bukan meminta sedekah. Mereka meminta hak. Kalau perbaikan rumah bocor saja harus pakai rekomendasi bupati, itu bukan pelayanan — itu penyiksaan terhadap kemiskinan,” ujarnya.
“Baznas Telah Menjadi Gerbang Penderitaan”
Menurut Ade, wajah pelayanan Baznas hari ini berubah menjadi institusi birokratis yang kaku, jauh dari semangat keadilan sosial.
> “Uang zakat itu bukan alat pamer kuasa. Jika pengurus merasa berhak menentukan hidup-matinya rakyat miskin, itu berarti mereka sudah buta fungsi, buta moral, dan buta hati,” tegasnya.
Ade menggambarkan Baznas saat ini sebagai “gerbang penderitaan” bagi warga yang sudah lebih dulu tertindas oleh kondisi hidup yang keras.
Desakan Keras kepada Presiden Prabowo
Ade juga menyampaikan seruan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto agar segera turun tangan.
> “Saya mendesak Presiden Prabowo untuk melakukan audit nasional. Pecat pengurus yang mempermainkan rakyat dan bersihkan sistem Baznas dari atas sampai bawah. Ini darurat kemanusiaan,” katanya.
Ia meminta Baznas RI untuk mengambil alih penuh penanganan di daerah yang dinilai gagal menjalankan mandat lembaga zakat.
Bahkan, Ade menyebut opsi paling ekstrem:
> “Jika tidak mampu berbenah dalam waktu dekat, maka pertimbangkan untuk membubarkan dan membentuk ulang lembaga zakat nasional yang benar-benar berpihak kepada rakyat.”
Rakyat Kehilangan Ruang untuk Menjerit
Menurutnya, kondisi di lapangan semakin memprihatinkan. Warga miskin harus memilih antara mengurus berkas yang rumit atau membeli beras untuk keluarga.
Rumah roboh, dinding retak, atap bocor, hingga anak sakit — namun proses bantuan tetap terhambat syarat administratif yang panjang.
Ade menutup pernyataannya dengan sebuah ultimatum:
> “Ini bukan tentang Baznas saja, ini tentang harga diri rakyat kecil. Jika negara benar-benar hadir seperti yang dikatakan Presiden Prabowo, maka inilah waktunya untuk membuktikan.”
Kini, perhatian publik terarah ke pemerintah pusat. Masyarakat menunggu langkah konkret: apakah Presiden akan bertindak, atau membiarkan polemik ini terus membesar di tengah rakyat yang semakin terhimpit."***


0 Komentar
Indo Update Terkini menghargai partisipasi pembaca.
Redaksi berhak menyunting atau menghapus komentar yang melanggar hukum, etika jurnalistik, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.