PALEMBANG – Di tengah gencarnya laporan pembangunan infrastruktur kota Palembang, kondisi Jalan Pertahanan Ujung, Lorong Bahri, RT 073 RW 021, Blok Adi Posay Belakang, Kelurahan 16 Ulu, justru memperlihatkan kenyataan sebaliknya. Ruas jalan sepanjang kurang lebih 100 meter di kawasan ini dibiarkan rusak parah tanpa sentuhan pengerasan, seolah keluar dari radar pembangunan.
Akibatnya, akses vital tersebut menjadi momok bagi warga, terutama saat hujan. Lumpur menebal, genangan muncul di banyak titik, dan aktivitas masyarakat lumpuh setiap kali cuaca berubah.
Marta Lizar, warga RT 73 yang tinggal persis di depan ruas jalan rusak itu, mengaku heran mengapa pembangunan berhenti begitu dekat—padahal tinggal 100 meter lagi untuk menyambung ke jalan yang sudah dicor beton.
> “Ruas yang dicor itu sudah dekat sekali. Tinggal 100 meter lagi. Tapi entah kenapa justru bagian ini tidak tersentuh. Padahal ini depan rumah saya dan dilewati banyak orang,” kata Marta, Kamis (13/11/2025).
Ia menambahkan, kondisi ini paling menyiksa bagi anak-anak sekolah. Saat hujan, siswa-siswa harus meniti genangan sambil menghindari lumpur yang licin.
> “Kalau hujan, anak-anak hampir tidak bisa lewat. Kami butuh akses ini, tapi seperti tidak dihiraukan,” tegasnya.
Pertanyaan Besar: Mengapa Proyek “Terputus” Tepat di Lokasi Warga?
Warga mulai mempertanyakan alasan teknis maupun non-teknis di balik berhentinya pengerasan hanya beberapa puluh meter sebelum lokasi tersebut. Apakah karena masalah anggaran? Prioritas yang keliru? Atau karena kawasan ini tidak dianggap strategis oleh pemangku kepentingan?
Yang jelas, informasi mengenai proyek ini minim. Tidak ada papan proyek, tidak ada kabar kelanjutan, dan tidak ada kejelasan kapan akses ini akan diperbaiki.
RT Klaim Sudah Ajukan, Warga Merasa Tidak Ada Pergerakan
Ketua RT 73, Alhadi alias Adi, ketika dikonfirmasi, menyebut pengajuan perbaikan sudah dilakukan namun belum mendapat respons.
> “Sudah kita upayakan, masih proses pengajuan,” ujarnya singkat.
Namun jawaban ini belum meredakan kekhawatiran warga. Pasalnya, pengajuan itu sudah disebutkan sejak beberapa bulan lalu, tetapi kondisi di lapangan tetap sama: tidak ada alat, tidak ada pengerasan, tidak ada tanda-tanda pekerjaan akan dimulai.
Warga Khawatir Ada Ketimpangan Prioritas Pembangunan
Beberapa warga yang ditemui TRIBNETWORK menilai ada indikasi ketimpangan prioritas pembangunan. Wilayah lain di sekitar 16 Ulu mendapat perbaikan, sementara lorong ini dibiarkan seolah tidak penting, meskipun menjadi akses harian masyarakat.
Jika dibiarkan, jalan ini bukan hanya menghambat mobilitas, tetapi juga berpotensi memicu kecelakaan, terutama bagi pengendara motor dan pelajar.
Marta berharap melalui pemberitaan ini, pihak Dinas PU atau instansi terkait dapat turun langsung mengecek dan memberi jawaban jelas—mengapa 100 meter jalan ini tak kunjung dicor"***


0 Komentar
Indo Update Terkini menghargai partisipasi pembaca.
Redaksi berhak menyunting atau menghapus komentar yang melanggar hukum, etika jurnalistik, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.